BJ Habibi Kenakan Teluk Belanga, Songket dan Berpeci Hitam di HUT Riau ke-61

Dumaiposnews.com – MANTAN presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie hadir di perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Riau ke-61. Perayaan hari jadi Provinsi Riau ini, digelar di halaman kantor Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru, Kamis (9/8).

Pada perayaan itu, BJ Habibie mengenakan baju khas Melayu berwar­na merah maroon dengan lilitan kain songket, serta peci hitam. Ia terlihat sehat dan duduk di tengah.

Kongkowkuy

Samping kanan Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rahman dan samping kiri Wakil Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim.

Kehadiran mantan presiden dalam perayaan ulang tahun Riau ini, tentu menambah kegembiraan para peserta upacara dan undangan yang hadir.

Disela-sela peringatan HUT Riau itu, BJ Habibie menyoroti masih gencarnya pemerintah melakukan impor. Padahal, Indonesia sudah memiliki teknologi pangan yang bisa diandalkan.

Habibie mencontohkan teknologi untuk kedelai. Peneliti dan pere­kayasa bisa menciptakan teknologi yang menghasilkan kedelai  bermutu baik dengan jumlah banyak.

“Kita punya teknologi pangan yang bagus. Biayanya murah, hasilnya banyak tapi kenapa sampai sekarang masih impor kedelai juga,” ujar Habibie saat menjadi keynotespeaker dalam rangkaian kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Pekan­baru Riau, Kamis (9/8).

Dia berandai-andai, akan terasa indah bila teknologi pertanian bisa menaungi industri di dunia. Sebab majunya peradaban dunia, tidak cukup dengan pendidikan dan pembudayaan tapi juga teknologi.

“Hanya teknologi yang bisa bikin suatu negara maju,’ ucapnya. Habibie mengaku bersyukur, masih bisa memperingati Hakteknas. 23  tahun lalu, Habibie menepati janjinya kepada Presiden Soeharto 

untuk mendaratkan pesawat terbang buatan anak bangsa bekerja sama  dengan Spanyol.

“Saya tepati janji yang diberikan kepada presiden 28 Januari 1974  bahwa 10 tahun lagi bangsa indonesia sudah bisa kuasai teknologi  pesawat terbang,” tuturnya.

Dia berharap, dengan Hakteknas ke-23, semua pihak bekerja sama  sebagai satu tim dan fokus kepada kebutuhan rakyat.

Itu akan berkembang jikalau kita mengembangkan dasar-dasar pikir­an dari ekonomi pasar Pancasila.  Sebelumnya, di depan BJ Habibie dan para pejabat serta tamu  undangan yang hadir, Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rahman membe­berkan, Riau akan menjadi pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir  batin di Asia Tenggara pada tahun 2025 nanti.”Bukan suatu hal yang mustahil untuk kita wujudkan.

Provinsi Riau dalam kurun waktu 2014-2017 telah mampu memperbaiki ketimpangan pendapatan antara kelompok masyarakat,” ujar Andi.

Sementara itu, kekayaan alam berupa migas telah merubah wajah Riau yang dulunya terkenal gersang, namun menjadi madu bagi pendatang untuk berkarya di tanah Melayu ini.

“Corak ragam adat budaya Riau telah begitu terbilang kemana-mana, namun tetap menjadi junjungan anak negeri untuk tetap dipertahan­kan hingga ke generasi berikutnya,” sebutnya.

“Kita lihat khazanah budaya Melayu yang begitu kental dengan kemelayuannya telah mengangkat marwah Riau terdepan,” pungkasnya. (rio)