Gerakan Boikot Berhasil, Israel Alami Kerugian Ekonomi

DUMAIPOSNEWS.COM – Gerakan boikot produk dan komoditas yang menunjukkan dukungan pada Israel di tengah genosida yang dilakukan IDF terhadap rakyat Gaza, Palestina, semakin ramai diserukan di media sosial.

Salah satunya oleh Gerakan BDS Indonesia, yaitu Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS) terhadap Israel, yang merupakan bagian dari Palestinian BDS National Committee (BNC).

Kongkowkuy

Gerakan BDS Indonesia menegaskan, boikot dilakukan dengan berhenti membeli komoditas dan produk dari perusahaan Israel atau yang mendukung kejahatan Israel secara langsung.

Gerakan boikot ini sebagai bentuk tekanan agar Israel tunduk terhadap hukum internasional dan menarik pasukannya dari Jalur Gaza, serta bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina.

Boikot produk pro Israel juga bertujuan agar perusahaan menarik dukungannya dari Israel. Dengan begitu Israel akan kehilangan dukungan finansial dan material lewat boikot karena perusahaan berhenti mendukung mereka.

Apakah Boikot Berhasil?

CEO & Founder AMI Group, Azzam Izzulhaq mengatakan, setiap harinya Israel harus mengeluarkan anggaran sebanyak $260 Juta atau setara lebih dari Rp4 Triliun.

“Artinya, sampai hari ini mereka sudah mengeluarkan anggaran sebesar $10,14 Miliar. Belum lagi mereka mengalami kerugian ekonomi sebanyak $600 Juta per pekan,” tuturnya.

Menurutnya, agresi militer yang dilancarkan Israel ke jalur Gaza memakan anggaran yang tidak sedikit, sehingga menyebabkan Israel merugi hingga mencapai $600 Juta per pekan atau setara Rp9,5 triliun.

“Dan mereka saat ini sudah dalam kondisi peningkatan defisit anggaran sebanyak 397 persen dengan nilai $6 Miliar (Rp94 Triliun lebih),” kata Azzam.

Ia mengatakan, bahwa Israel hanya mengandalkan bantuan financial dari negara-negara sekutunya, seperti Eropa dan Amerika sebagai pendukung ekonomi terbesarnya.

“Negara sekutu ya anggarannya dari pemasukan berbagai komoditas industri. Komoditas industri ya dari serapan pembelian produk yang dikonsumsi oleh kita sebagai konsumennya,” pungkasnya.

“Artinya, ketika kita memutus rantai konsumen terhadap produk-produk tersebut, Zionis Israel dan negara sekutunya tidak mendapatkan atau kesulitan mendapatkan pasokan amunisi finansial untuk membiayai genosida mereka,” lanjutnya.

Menurutnya, gerakan boikot bisa secarang langsung maupun tidak langsung memiliki dampak terhadap perekonomian Israel

Senada dengan hal itu, Al Jazeera menyebutkan, sejak dimulainya aksi BDS pertama kali dalam sepuluh tahun belakangan ini, gerakan boikot meraih kesuksesan di seluruh dunia.

Di bidang ekonomi, perusahaan-perusahaan multinasional Amerika yang berafiliasi dengan penindasan Israel terhadap palestina, seperti Veolia dan G4S, mengalami kerugian dan kehilangan miliaran dolar karena aksi boikot.

Pada tahun 2014, investasi asing langsung ke Israel mengalami penurunan sebanyak 46 persen imbas dari kampanye boikot atau BDS.

Pada tahun 2016, laporan Al Jazeera menunjukkan gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga $11,5 Miliar per tahun bagi Israel.

Sementara itu, dilansir dari brooking.edu, data Bank Dunia membantah bahwa Boikot berdampak signifikan langsung terhadap Israel.

Pada tahun 2016, laporan Al Jazeera menunjukkan gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga $11,5 Miliar per tahun bagi Israel.

Ia menyebut, 40 persen produk ekspor Israel merupakan barang setengah jadi, artinya barang tersebut tersembunyi, sehingga sulit menjadi sasaran boikot.

Selain itu, produk-produk yang dihasilkan Israel untuk diekspor juga merupakan komoditas berteknologi tinggi, sehingga sulit untuk digantikan.

Sumber: Jawapos.com