Diguyur Hujan, Bengkalis Bebas Hot Spot Sudah 188.7 Hektar Lahan Tebakar

BENGKALIS(DUMAIPOSNEWS.COM)- Hujan yang mengguyur wilayah Bengkalis sejak beberapa hari terakhir, berhasil memadamkan seluruh titik api di wilayah ini.  Saat ini, Bengkalis bebas dari kebakaran hutan dan lahan.

“Ahamdulillah, kita terbantu hujan. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir berhasil memadamkan seluruh hot spot (titik api) yang ada di wilayah Kabupaten Bengkalis,” ujar Kepala Dinas Damkar Kabupaten Bengkalis, H Zulfan Heri, saat ditemui Rabu (7/3).

Kongkowkuy

Kendati begitu, Zulfan berharap kondisi ini tidak membuat seluruh pihak lengah, karena sewaktu-waktu karhutla bisa saja terjadi,” Mari kita jaga dan terus pantau kondisi ini, agar kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi. Seperti disampaikan pak Bupati, bahwa penanganan karhutla tidak bisa ditangani oleh sati OPD saja tapi seluruh stake holder,” paparnya.

Sebelumnya, saat Rapat Koordinasi (Rakor) penanganan Karhutla, Selasa (6/3), Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis, H Jaafar Arief, melaporkan, hingga Maret 2018, terjadi 32 bencana Karhutla dengan luas area terbakar mencapai 188.7 hektar.

Dari 11 kecamatan, Rupat menjadi kecamatan dengan luas lahan terbakar paling luas yaitu 78 hektar (Ha) (7 kasus), disusul Talang Muandau, lahan terbakar 32 Ha (6 kasus). Kemudian, Bandar Laksamana lahan terbakar mencapai 25.7 Ha (1 kasus) dan kecamatan Bengkalis 25.5 Ha lahan terbakar dari 2 kasus. Sedangkan Siak Kecil lahan terbakar 12 Ha (3 kasus), Kecamatan Mandau sebanyak 8 Ha lahan terbakar (7 kasus). Selanjutnya Bukit Batu, 3 Ha terbakar (1 kasus). Bantan hanya 2 Ha terbakar (3 kasus) dan Pinggir 1.5 Ha (1 kasus) saja.

Khusus, Bathin Solapan, menjadi satu-satunya kecamatan yang tidak terjadi Karhutla selama periode Januari sampai dengan Maret 2018. Dalam laporannya, kasus kebakaran dan luas area yang terbakar akibat Karhutla terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Sampai Maret saja terjadi 32 kasus dan 188.7 hektar lahan terbakar, sedangkan tahun 2017 hanya 9 kasus dan luas areal terbakar 48 hektar saja. Begitu juga dengan titik api (hotspot) yang terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selama 3 bulan saja ditemukan 20 titik api. Sedangkan tahun 2017 hanya 26.

“Kondisi ini tidak terlepas dari prediksi BMKG bahwa Bengkalis akan mengalami 2 kali musim kemarau, pertama terjadi pada pertengahan Januari hingga awal Maret, dan kedua diperkirakan Mei hingga akhir Agustus 2018,” ujar mantan Kepala Dinas Perhubungan Bengkalis itu. Kejadian ini, Pemerintah Kabupaten Bengkalis telah menetapkan siaga darurat Karhutla, sejak 15 Februari sampai 31 Juli 2018 mendatang, status tersebut bisa diperpanjang atau dipersingkat. (auf)

Komentar