Ketika Bersahabat Dengan PHR, Tercipta Kolaborasi Menjaga Bumi dan Edu Ekowisata Menawan

Pintu masuk kedalam kawasan Bandar Bakau Dumai
Edu ekowisata, atau ekowisata edukatif, adalah bentuk pariwisata yang menggabungkan elemen  pendidikan dan pelestarian lingkungan. Dalam edu ekowisata, pengunjung tidak hanya menikmati  keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang ekosistem, konservasi, dan budaya  lokal.

Laporan : BAMBANG HENDRIYANTO, Dumai

Pagi jelang siang, cuaca disekitar Bandar Bakau Dumai yang terletak di Jalan Nelayan Laut  sangat bersahabat, hembusan angin membuat pepohanan mangrove setinggi lebih kurang 5 meter  yang tumbuh subur di lokasi itu terlihat bergoyang-goyang.

Kongkowkuy

Suara berbagai jenis burung yang tidak diketahui dari mana asalnya tapi terdengar saling  bersahutan. Hewan lainya, adalah sekelompok monyet terlihat melompat dari pohon yang satu ke pohon mangrove lainya.

Saat berada disebuah panggung persinggahan ditengah kawasan mangrove Bandar Bakau Dumai,  rombongan wartawan yang sengaja datang ketempat tersebut disambut oleh Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bandar Bakau Dumai Darwis Moh Saleh.

Saat bincang-bincang, Tok Darwis -sapaan akrabnya- mengisahkan hutan yang dulunya belantara ditumbuhi pohon-pohon mangrove yang semua keberadaanya hanya sebatas mencegah abrasi dan pengikisan air laut ke darat pesisir Dumai.

Agar keberadaan hutan mangrove bermanfaat untuk orang banyak, lalu dirinya dan beberapa anggotanya berpikir untuk membuat wisata mangrove, tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian lingkungan dan mendukung komunitas lokal melalui  pengalaman yang informatif dan berkelanjutan.

Akhirnya, mereka bertekad harus berkolaborasi  dalam menjaga bumi dan memberikan edu wisata yang menawan kepada pengunjung yang datang, dengan semangat orang akan datang dan betah di Bandar Bakau.

Walau sempat jalan, namun tidak begitu maksimal bahkan dirinya bersama anggota sempat putus  asa menuyusl datangnya wabah Covid-19. Sebab akibat Covid-19 tentu sangat memukul dunia  wisata di Kota Dumai, termasuk wisata mangrove Bandar Bakau.

Bak gayung bersambut, disaat kondisi serba susah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan hadir  pada akhir tahun 2022 lalu langsung bersahabat atau menjadi mitra.

” Terus terang kami hampir putus asa dan menyerah. Disaat saya  hampir menyerah dan kemudian muncul hubungan emosional dengan PHR,”ujarnyanya.

Pengunjung saat berada di dalam kawasan Bandar Bakau

Perjuangan mangrove di Bandar Bakau dikenal secara nasional itu bukan karena banyak menanam,  tapi adalah nilai kultur legenda putri tujuh yang saya angkat secara nasional kalau tak ada  cerita putri tujuh mungkin saya tidak terinspirasi menyelamatkan Kuala Tungkai.

“Kami hampr menyerah dengan keadaan, ini ceritanya bukan duit. Lalu kita bilang ini kami  enggak mau lagi papan untuk jembatan dan panggung. Akhirnya saya bicara dengan pihak PHR,  lalu mereka menyambut baik, dan panggung yang kita duduk dan berdiri ini namanya panggung  dada yang dibangun oleh PHR.

PHR secara bertahap mulai melengkapi fasilitas yang ada dibutuhkan di hutan Bandar Bakau. Seperti membangun jalan beton sepanjang sekitar 300 meter. Kemudian pembangunan stand atau  gerai untuk sarana media informasi maupun foto, serta membangun tempat panggung hiburan.

Untuk terus bertahan agar wisata mangrove terus bertahan dan berkembang, untuk mendatangkan  uang bukan dengan berharap bantuan, sebab selama ini bantuan yang diberikan PHR kepada mereka  berbentuk barang dan bangunan, dan ini bagi mereka lebih dari cukup. Melalui sarana dan  prasana atas bantuan terus dipertahankan dan terkonsep menjadi kawasan yang handal.

“Untuk mendatangkan uang bagi pengurus kawasan wisata mangrove, kita bangun coffe shop, cafe,  home stay dan sebagai pemandu wisata dengan memberikan materi kepada siapa saja yang datang kesini sekaligus menjual UMKM warga tempatan disini,”Ujarnya.

Saat ini, kata Tok Darwis lagi dikawasan wisata mangrove tersebut terdapat 71 jenis mangrove.  Dari hasil penelitian pemanfaatnya yang lebih kepada farmasi atau obat-obatan. Sedangkan  jumlah burung terdiri 16 jenis yang selalu singgah termasuk burung dari Rusia, begitu juga monyet dan bintang lain yang dilindungi terdapat dikawan tersebut.

Sesuai data, pada tahun 2023 jumlah wisatawan yang datang ke kawasan wisata mangrove  ini sudah mencapai 3 ribu lebih terdiri wisatawan lokal dan mancanegara yang meliputi dari  Jerman, Jepang, Rusia, Malaysia, Korea, China, Monte Negro.

” Mereka wisatawan mancanegara yang datang rata-rata menginap pakai tenda sendiri, pada  umumnya rehat dalam perjalanan, mereka tidak membayangkan kalau Dumai memiliki kawasan alam  hijau yang sehat,”ungkapnya.

Yang jelas, ungkapnya lagi menyelamatkan Bandar Bakau bukan untuk mencari kepentingan uang  pribadi, tapi mengangkat mangrove dari titik kebudayaannya sebagai sebagai laman bermain  orang-orang pesisir, artinya bahwa restorasi bisa dilakukan bila orang pesisir itu sendiri  yang melakukan.

“Sebelum datang PHR dan saya menggunakan alam yang membiayai alam itu sendiri, contohnya saya  bibit apa saya ambil buah bakau yang matang saya polybag kan lalu saya jual ke  perusahaan-perusahaan yang ada di sini lalu uangnya itu 20 persennya saya kembalikan untuk  Bandar Bakau, 20 persennya untuk pribadi saya dan 60 per itu untuk dibagikan,”ungkapnya mengenang awal-awal mendirikan wisata mangrove ini.

Ditempat yang sama, Analyst Social Perfomance PHR WK Rokan, Priawansyah menjelaskan, dengan  adanya Bandar Bakau ini berfungsi sebagai penyerapan karbon dioksida.

“Sebagai kota industri, sudah tentu memiliki karbondioksida yang tinggi. Dan keberadaan  Bandar Bakau yang memiliki berbagai jenis mangrove dapat menyerap karbondioksida yang tinggi  itu. Sehingga udara bebas dari karbondioksida,” kata Priawansyah.

Lanjut Priwansyah, pihak PHR selalu memberikan dukungan terhadap pengembangan mangrove berupa  CSR mengingat sangat pentingnya keberadaan Bandar Bakau Dumai ini,”Intinya dari awal kita  sepakati PHR membantu sesuai apa yang diperlukan oleh pihak Bandar Bakau,” kata Priawansyah.

Git Fernando saat mengajak wartawan melihat dari bagian luar Bandar Bakau Dumai 

GIS dan Pemetaan tim Rimba Satwa Foundation (RSF) Git Fernando menyebutkan, pihaknya terus  berupaya melakukan pengembangan dalam pengembangan mangrove. Dimana untuk memperkaya wawasan  dan meningkatkan kapasitas pengelolaan juga melakukan studi banding hingga ke Sumatra Utara  yaitu di Batu Bara Mangrove Park

“Cara melestarikan mangrove dan memadukan keindahan alam dengan sentuhan modernitas,  serta menciptakan destinasi wisata yang menarik sekaligus edukatif caranya kita bertukar pikiran  melalui studi banding,”ungkapnya.

Keberhasilan Bandar Bakau tak lepas dari semangat kolaborasi yang kuat antara KTH Bandar  Bakau Dumai, RSF dan PHR. PHR memberikan dukungan dalam pengembangan manajemen sementara RSF  mendampingi KTH dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan.

KTH Bandar Bakau Dumai yang dipimpin oleg Darwis Moh Soleh dengan semangat dan keahliannya menjadi garda terdepan menjaga kelestarian mangrove dan mengembangkan potensi ekowisata.

Tentunya sejak menjadi binaan PHR, peningkatannya cukup signifikan, yaitu dari sisi  meningkatnya kunjungan masyarakat, kepuasan dan kenyamanan pengunjung.

“Semoga ini tetap dipertahankan, teruslah menjaga bumi dan memberi edukasi kepada masyarakat  yang membutuhkannya,”tutup Gif, yang mengaku sudah beberapa kali menginap di home stay Bandar  Bakau Dumai yang dibangun menghadap laut. (***)